Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat dari waktu ke- waktu hingga mempengaruhi kehidupan manusia apalagi para generasi milenial, baik dari anak-anak, kalangan muda, maupun para orang tua. Para orang tua dan kalangan muda mungkin mereka sudah bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, sehingga mereka bisa memilah dengan bijak dalam menggunakan internet, namun lain halnya dengan anak-anak apalagi jika penggunaan internet itu tidak didampingi oleh orang dewasa, mereka bisa saja terjerumus kedalam hal-hal yang negatif. Dengan hal ini, peran orang tua sangat penting dalam memperhatikan perkembangan dan keseharian anak, juga teman-teman sepergaulannya.
Dalam dunia pendidikan sendiri, perkembangan generasi milenial saat ini tengah memasuki pendidikan menengah pertama dan pendidikan menengah atas, bagus sekali sebenarnya apabila para siswa mengikuti arus perkembangan zaman, tapi mereka juga harus bisa mengontrol pemakaian teknologi tersebut, sering menggunakan internet untuk mengerjakan tugas contohnya, hal ini bisa membuat siswa memiliki rasa malas untuk belajar dan lebih memilih cara yang instan dan cepat. Selain itu, siswa juga sangat rawan terbawa arus informasi yang belum jelas atau hoax jika siswa tersebut tidak mampu membedakan mana informasi yang asli kebenarannya dan mana yang palsu (hoax). Saat ini banyak sekali generasi yang menjadi korban “keganasan” media sosial. Smartphone sebagai pintu gerbang menuju dunia tanpa batas internet, telah disalah gunakan sebagai alat untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma, bahkan sebagian ada yang sudah menggunakan internet seakan internet itu adalah buku diarynya, tidak ada rasa malu lagi untuk mengunggah foto-foto atau tulisan yang bersifat privasi sekalipun dan itu bisa menimbulkan hal-hal buruk yang tidak diinginkan, dan hal itu bisa saja dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, jadi tidak heran jika banyak terjadi kasus pelecehan yang bermula dari media sosial, penculikan yang berkedok asmara, hingga peredaran narkoba, dan masih banyak kasus-kasus yang lainnya.
Untuk meminimalisasi dan mempersempit terutama pada perilaku tak bermoral dikalangan masyarakat luas, kita perlu menata konsep pendidikan nasional, perlu dijaga konsistensi pendidikan karakter saat ini untuk masa depan yang indah para generasi bangsa ini. Pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula. Anak-anak generasi milenial menjadi sangat cerdas beradaptasi terhadap perkembangan tekhnologi informasi dengan berbagai wacana yang kompleks, karenanya orang tua, pendidik dan dunia pendidikan menghadapi banyak tantangan dalam memberikan wawasan terhadap perkembangan dan pertumbuhan karakter anak yang tangguh menghadapi persaingan global, orang tua, pendidik, dan dunia pendidikan dituntut memiliki cara yang berbeda dalam memberi didikan terhadap pribadi siswa atau anak. Pendidikan karakter melalui sekolah tidak hanya berfokus kepada pembelajaran saja, tetapi meliputi penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, dan budi pekerti yang luhur, pendidikan yang diharapkan adalah secara sadar menyiapkan peserta didik dengan kegiatan dan pengajaran yang sesuai dengan tantangan jaman di masa depan, satu hal lainnya yang tidak kalah penting dalam pendidikan yaitu proses pembelajaran yang kontekstual akan menjadikan pembelajaran bermakna karena selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata dengan konteks lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya sehingga peserta didik mudah memahami materi. Guru harus benar-benar mampu untuk membimbing, mengarahkan, dan mampu memfilter hal-hal yang kurang sesuai pada internet tersebut. Pembentukan karakter melalui jalur pendidikan disekolah akan menghadapi beberapa tantangan yang tidak ringan baik yang bersifat internal (orientasi, praktik pendidikan, budaya, kemampuan guru, personal pendidikan, nilai-nilai karakter yang berkembag disekolah, dan juga sekolah belum dapat memilah karakter yang sesuai) dan juga factor eksternal (pengaruh globalisasi, perubahan lingkungan sosial secara global, pengaruh teknologi informasi dan komunikasi, dan perkembangan sosial masyarakat).
Kecerdasan yang berkarakter merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan yang sebenarnya, hal ini didasari pengertian bahwa karakter ini mengendalikan tingkah laku dan pikiran. pendidikan karakter tidak akan tampak hasil nyatanya jika ia ada hanya sebatas tentang proses pemahaman karakter tanpa adanya tindakan, kunci dari pendidikan karakter adalah disiplin, komitmen, dan penerapan atau pelaksanaan pendidikan karakter disebuah intuisi akan berlangsung dengan baik. Sebagaimana kita mengerti bahwa karakter harus dikembangkan secara sadar hari demi hari melalui proses yang tidak instan, maka pembentukan karakter harus sedini mungkin ditanamkan kepada anak-anak. Hal ini salah satunya bertujuan untuk menjaga anak-anak milenial agar lebih bijak dan lebih terarah dala memanfaatkan teknologi yang semakin maju dan semakin berbahaya jika tidak di kontrol. Implikasinya banyak guru yang merasa resah dalam menanggapi perkembangan generasi yang satu ini, disatu sisi banyak guru yang menginginkan anak didiknya tidak gagap teknologi, namun disisi lain mereka juga tidak menghendaki perkembangan teknologi disalah gunakan. selain itu, disatu sisi banyak guru menginginkan anak didiknya memahami berbagai fenomena yang kompleks dan dinamis dalam masyarakat. Namun, disisi yang lain anak lebih menyukai hal-hal yang aplikatif dan menyenangkan yang bersifat modern. Tumbuh dan berkembang di era milenial ini tentu saja menjadikan anak-anak muda mengalami transformasi karakter, gaya hidup, dan identitas diri yang unik, mereka tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi dan budaya pop.
Guru sebagai sosok yang dianggap berperan penting dalam proses pembentukan karakter anak, tentu saja harus bekerja ekstra keras. Hal ini lantaran generasi milenial tidak lagi seorang anak yang mudah diatur ini dan itu dengan sebuah paksaan. Namun, harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Generasi milenial merupakan generasi yang amat gandrung pada perkembangan teknologi. Sebagai guru tentu saja bisa dilakukan dengan mencoba bermanuver dalam perkembangan teknologi. Misalnya, dengan memanfaatkan media sosial untuk melakukan proses pendidikan. Hal ini akan sangat efektif untuk menekan dampak negative dari peneyebaran informasi melalui sosial media, bisa juga dengan cara melakukan proses pendidikan yang fleksibel dan lebih efektif dengan pikiran terbuka, serta mengakui tidak ada cara tunggal yang benar untuk mengembangkan karakter anak. Ketersediaan buku-buku, memberikan kekayaan sumber daya, ide-ide pendidik yang berbeda, dan perspektif budaya yang beragam dari situ mereka dapat mempertimbangkan segala macam informasi dan opini untuk menciptakan gaya mendidik sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Guru bisa juga melakukan pendekatan dengan mengutamakan pendekatan yang rileks responsif terhadap peserta didik, guru juga baik menekankan focus baru pada empati, untuk membantu peserta didik dalam berinteraksi dan memahami dunia mereka dengan baik, umumnya cara-cara tersebut yang biasa dilakukan oleh guru dalam membangun karakteristik siswa yang berkembang pesat akibat heterogenitas dan keterbukaan pikiran akan pengetahuan dan teknologi. Utamanya, apapin langkah yang dilakukan oleh guru dalam menyikapi perubahan generasi milenial, pastikan itu adalah cara yang terbaik untuk membuat anak didik nantinya yang berbahagia dan berkarakter.
PAI_Ana Nur Fitria Handayani
Rabu, 31 Oktober 2018
Rabu, 11 April 2018
Selasa, 10 April 2018
Kisah Inspiratif
"Lelaki Tua dan Selimut"
Seorang lelaki tua dengan baju lusuhnya masuk ke sebuah toko megah. Dari bajunya, kelihatan kalau lelaki tua tersebut dari golongan fakir. Para pengunjung di toko tersebut (yg rata-rata borjuis) melihat aneh kepada lelaki tua itu. Tetapi tidak dengan pemilik toko.
Pemilik toko: ''Mau cari apa pak?'', tanyanya ramah.
Lelaki Tua: ''Anu.. Saya mau beli selimut 6 helai untuk saya dan anak istri saya. Tapi.. '', jawabnya ragu.
Pemilik toko: ''Tapi kenapa pak?''
Lelaki tua: ''Saya hanya punya uang 100 riyal. Apa cukup untuk membeli 6 helai selimut? Tak perlu bagus, yang penting bisa untuk melindungi tubuh dari hawa dingin'', ucapnya polos.
Pemilik toko: ''Oh cukup pak! Saya punya selimut bagus dari Turki. Harganya cuma 20 riyal saja. Kalau bapak membeli 5, saya kasih bonus 1 helai'', jawabnya sigap.
Lega, wajah lelaki tua itu bersinar cerah. Ia menyodorkan uang 100 riyal, lalu membawa selimut yang dibelinya pulang.
Seorang teman pemilik toko yang sedari tadi melihat dan mendengar percakapan tersebut kemudian bertanya pada pemilik toko:
''Tidak salah? Kau bilang selimut itu yang paling bagus dan mahal yang ada di tokomu ini. Kemarin kau jual kepadaku 450 riyal. Sekarang kau jual kepada lelaki tua itu 20 riyal?", protesnya heran.
Pemilik toko: ''Benar. Memang harga selimut itu 450 riyal, dan aku menjualnya padamu tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi kemarin aku berdagang dengan manusia. Sekarang aku berdagang dengan Allah".
"Demi Allah! Sesungguhnya aku tidak menginginkan uangnya sedikitpun. Tapi aku ingin menjaga harga diri lelaki tua tersebut agar dia seolah tidak sedang menerima sedekah dariku hingga bisa membuatnya malu".
"Demi Allah! Aku hanya ingin lelaki tua itu dan keluarganya terhindar dari cuaca musim dingin yang sebentar lagi datang. Dan aku pun berharap Allah menghindarkanku dan keluargaku dari panasnya api neraka..'',
#Sungguh, diperlukan seni dan trik dalam beramal dan bersedekah agar membuat orang lain tidak merasa malu atau rendah
Lelaki Tua: ''Anu.. Saya mau beli selimut 6 helai untuk saya dan anak istri saya. Tapi.. '', jawabnya ragu.
Pemilik toko: ''Tapi kenapa pak?''
Lelaki tua: ''Saya hanya punya uang 100 riyal. Apa cukup untuk membeli 6 helai selimut? Tak perlu bagus, yang penting bisa untuk melindungi tubuh dari hawa dingin'', ucapnya polos.
Pemilik toko: ''Oh cukup pak! Saya punya selimut bagus dari Turki. Harganya cuma 20 riyal saja. Kalau bapak membeli 5, saya kasih bonus 1 helai'', jawabnya sigap.
Lega, wajah lelaki tua itu bersinar cerah. Ia menyodorkan uang 100 riyal, lalu membawa selimut yang dibelinya pulang.
Seorang teman pemilik toko yang sedari tadi melihat dan mendengar percakapan tersebut kemudian bertanya pada pemilik toko:
''Tidak salah? Kau bilang selimut itu yang paling bagus dan mahal yang ada di tokomu ini. Kemarin kau jual kepadaku 450 riyal. Sekarang kau jual kepada lelaki tua itu 20 riyal?", protesnya heran.
Pemilik toko: ''Benar. Memang harga selimut itu 450 riyal, dan aku menjualnya padamu tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi kemarin aku berdagang dengan manusia. Sekarang aku berdagang dengan Allah".
"Demi Allah! Sesungguhnya aku tidak menginginkan uangnya sedikitpun. Tapi aku ingin menjaga harga diri lelaki tua tersebut agar dia seolah tidak sedang menerima sedekah dariku hingga bisa membuatnya malu".
"Demi Allah! Aku hanya ingin lelaki tua itu dan keluarganya terhindar dari cuaca musim dingin yang sebentar lagi datang. Dan aku pun berharap Allah menghindarkanku dan keluargaku dari panasnya api neraka..'',
#Sungguh, diperlukan seni dan trik dalam beramal dan bersedekah agar membuat orang lain tidak merasa malu atau rendah
Langganan:
Postingan (Atom)